Mengajarkan pemrograman pada anak-anak

Anak saya yang sekarang ini usianya 4 tahun sudah mulai saya ajari memprogram dengan tutorial dari code.org. Mulanya anak saya iseng meminjam laptop saya, dan dia bermain-main, katanya dia sedang “mrogram”, jadi ternyata dia mau “play pretend” jadi programmer. Karena code.org menyediakan pelajaran untuk usia 4+, saya perkenalkan dia pada situs tersebut, dan dia sangat menyukainya.

IMG_0635

Mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya: ngapain sih anak-anak diajari programming? Apa gunanya? kenapa nggak diajarin nanti aja? Nanti jadi orang yang lebih dekat dengan mesin daripada manusia lain?

Sejak 2 tahun yang lalu, saya sudah membeli dan membaca buku Seymour Papert, yang berjudul, Mindstorms: Children, Computers, And Powerful Ideas.  Sebenarnya saya ingin menuliskan review yang panjang mengenai bukunya, tapi sudah ada orang lain yang menuliskannya dengan cukup detail. Jadi akan saya ceritakan secara singkat saja.

Buku ini ditulis tahun 1980 dan direvisi tahun 1993. Buku ini ditulis oleh pionir AI, yang pernah bekerja sama bertahun-tahun dengan Jean Piaget, seorang psikolog dan filosofer yang terkenal karena studi epistemologi pada anak-anak (epistemologi = teori  mengenai pengetahuan). Jadi buku ini dituliskan oleh orang yang benar-benar mengerti ilmu perkembangan anak, dan yang benar-benar mengerti mesin.

Belajar memprogram adalah belajar membuat instruksi yang logis dan  terperinci, jadi ini melatih logika anak. Ketika belajar membuat program, kita akan membuat kesalahan, di sini kita akan belajar debugging.  Ketika belajar memprogram, seseorang tidak belajar mengenai “benar”, dan “salah”, tapi “apakah ini bisa diperbaiki?”, dan “bagaimana cara memperbaikinya?”.

Ilmu pemrograman sangat dekat dengan ilmu matematika, tapi dari sisi praktis. Bahasa pemrograman Logo yang dirancang oleh Seymour Papert merupakan salah satu contoh pendekatan pengajaran matematika melalui program.

Ilmu yang dipelajari dalam pemrograman bisa diaplikasikan dalam hidup sehari-hari . Di buku Mindstorm, contoh yang diberikan adalah juggling. Keahlian yang sepertinya sulit ini ternyata bisa dipelajari langkah-langkahnya secara detail, dan jika kita membuat kesalahan, bisa didebug. Tentunya ini tidak cuma berlaku untuk juggling, segala macam aktivitas dan proses bisa dipecah menjadi langkah-langkah sederhana, dan bisa didebug.

Mengenai ketakutan bahwa anak-anak akan lebih dekat pada mesin: menurut saya ketakutan ini tidak terlalu beralasan.  Sejauh ini saya melihat bahwa orang-orang komputer di berbagai komunitas yang saya temui (komunitas network, programming, dan security), semuanya  memiliki banyak teman. Saat ini, anak sayapun lebih suka bermain dengan orang daripada dengan mesin.

Menurut saya, orang-orang yang kurang bisa bersosialisasi adalah karena orang itu introvert, jadi tidak peduli bidangnya komputer atau bukan. Orang introvert mungkin lebih banyak yang tertarik pada dunia komputer karena lebih nyaman bagi mereka berada di depan komputer. Jadi bukan komputer yang membuat orang menjadi introvert, tapi orang introvert yang lebih tertarik pada dunia komputer.

Tentunya mengajarkan pemrograman pada anak adalah keputusan orang tua, dan juga tergantung pada kemampuan dan kesukaan anak. Sebagai orang tua yang mengerti komputer (dan berusaha banyak membaca mengenai perkembangan anak), saya merasa bahwa pelajaran pemrograman ini berharga, dan anak saya merasa ini adalah hal yang menyenangkan.

Saya bukan orang tua yang ingin memaksa anaknya mengikuti jejak saya. Saya akan sangat senang jika anak saya mengambil bidang lain (misalnya kedokteran), tapi bisa menggabungkannya dengan ilmu pemrograman. Tapi jika dia mengambil jalan lain yang tidak ada hubungannya dengan pemrograman pun, saya tidak keberatan.

Perlu dicatat, bahwa logika dan pemrograman hanya salah satu dari banyak hal yang saya ajarkan pada anak saya. Saya tutup dengan quote dari Seymour Papert:

“I FEEL VERY DEEPLY COMMITTED TO THE IDEA that, although rationality isn’t everything, and passion and interests and faith of various sorts count as much–nevertheless, rationality is a force for the good, and the more people that are capable of rational, critical thinking–the better the world will be; the more that have access to knowledge about the rest of the world–the better the world will be.”

–Seymour Papert, Mathematician, Computer Scientist, Educator – 2007 Interview – One Laptop Per Child

One thought on “Mengajarkan pemrograman pada anak-anak”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *