Kenapa orang membuka source codenya?

Saya membaca di sebuah majalah Indonesia yang berusaha menjelaskan kenapa orang mau membuat software open source. Di situ sedikit sekali disebutkan motivasi yang ada dan yang paling dibahas adalah developer atheis yang ingin berbuat kebajikan dalam hidup ini. Di posting ini saya hanya ingin menyatakan bahwa ada banyak motivasi lain bagi seseorang untuk membuat software open source, dan tidak perlu satu artikel penuh untuk membahas satu motivasi.

sqlite

Ada alasan Komersial. Banyak orang yang tidak tahu bahwa ada banyak cara menghasilkan uang dari open source. Berikut ini saya tunjukkan beberapa di antaranya:

  • Developer membuat restriksi tertentu, misalnya jika ingin dipakai di aplikasi komersial, silakan bayar ke developer tersebut, atau buka source Anda. Contohnya lisensi GPL.
  • Developer menjual support untuk softwarenya (contoh: MySQL, gcc). Banyak pihak butuh support jika terjadi masalah di server mereka.
  • Developer punya versi yang lebih lengkap dan lebih bagus dari versi open sourcenya (contoh OpenBTS). Ini sedikit seperti model shareware, ada versi yang bisa dicoba, dan ada versi berbayarnya.
  • Developer punya plugin/module/library/theme untuk software open source yang bisa Anda beli (contoh: WordPress). Ini bisa banyak variannya, misalnya menjual tools khusus agar aplikasinya mudah dideploy di enterprise.
  • Developer menjual dokumentasi untuk softwarenya. Contohnya dokumentasi JPos harganya 50 USD. Programmer bisa mempelajari sendiri source codenya, tapi butuh waktu berapa jam? lebih murah membeli panduannya daripada berkutat dengan source code.
  • Website software tersebut ada iklannya, jadi developer mendapat uang dari iklan (banyak sekali proyek open source seperti ini).
  • Di software open source yang dipaketkan standar, ada iklannya (jika ingin versi tanpa iklan, silakan compile sendiri, contoh Free Download Manager)
  • Developer ingin supaya saingan saya yang closed source beralih ke software miliknya (kemudian membayar support atau membeli buku, atau melihat iklan di webnya, banyak contoh ini, misalnya OpenOffice). Sebagian orang juga berpikiran bahwa cara ini yang dipakai oleh Microsoft: biarkan saja sebagian orang membajak, asalkan perusahaan besar membayar lisensi Windows dan Office.
  • Developer ingin mempromosikan softwarenya untuk platform lain. Misalnya dulu Qt gratis di Linux, tapi komersial di Windows (sekarang gratis untuk semua platform).
  • Developer dibayar pihak lain atau bekerja sama dengan pihak lain, dan software tersebut sebenarnya mempromosikan produk mereka. Misalnya program yang hanya bisa melakukan koneksi ke database komersial tertentu. Firefox bekerja sama dengan Google (menjadikan Google sebagai search engine default).
  • Developer/perusahan ingin menguasai pasar dan akan mengambil keuntungan dari produk lain. Contohnya: Java. Oracle akan mengambil keuntungan dari berbagai application server for Java. Teknologi dasar Java sendiri bisa digratiskan dan diopensourcekan agar terkenal di berbagai platform.

Ada alasan personal. Alasan personal ini juga bisa banyak sekali:

  • Masalah ideologi. Banyak orang yang fanatik dengan apapun, dari mulai soal serius seperti agama, soal makanan (vegetarian, vegan, dsb), sampai yang tidak penting, seperti merk tas. Sebagian orang fanatik soal kebebasan software.
  • Masalah popularitas: ingin dikenal karena membuat sebuah software tertentu
  • Masalah keabadian nama: walaupun tidak dikenal luas, tapi nama saya ada di software terkenal yang dipakai semua orang, dan software itu akan “abadi” bebereapa puluh tahun ke depan.
  • Membalas jasa: Developer pernah memakai software gratis buatan orang dan itu sangat berarti baginya, jadi dia ingin membagikan karyanya sebagai balasan.
  • Malas mengurus software: developer punya software yang tidak ingin dia jual (mungkin kurang dipoles), tapi kadang tetap butuh software itu, jadi dibiarkan saja menjadi open source, supaya orang lain yang me-maintain.
  • Malas membuat software: sebagian orang membuat bagian kecil software dan mengundang orang lain menyumbangkan kode (ingat, ini tidak selalu berhasil, kalau memang idenya jelek atau softwarenya jelek, belum tentu ada yang mau memakai apalagi berkontribusi)
  • Pamer: “saya bisa bikin software ini. Software saya lebih bagus dari software buatan orang lain.”
  • Dedikasi untuk orang yang dicinta. Ada software yang dibuat untuk anak, untuk istri, pacar, dsb.
  • Orang yang ingin berbuat sesuatu untuk agamanya. Misalnya saya membuat aplikasi Alkitab, sedangkan ada orang lain yang membuat aplikasi pengingat Shalat, dsb.
  • Software sudah tidak menguntungkan lagi, misalnya beberapa compiler yang sempat populer di tahun 80-an sekarang diopensourcekan, karena memang sudah tidak dipakai orang lagi. Pembuatnya hanya ingin orang lain bisa mempelajari karyanya, dan namanya bisa abadi di internet.
  • Orang atheis atau orang pendosa yang ingin berbuat kebaikan.

Ada alasan terpaksa. Sebagian membuka source code mereka karena keterpaksaan:

  • Developer membuat clone game komersial, tapi kalau dijual nanti dia bisa dituntut, jadi disebarkan saja gratis dan open source.
  • Developer memodifikasi program yang lisensinya menyatakan bahwa developer harus menyebarkan modifikasi tersebut.

Jadi jangan heran kalau ada banyak software open source, banyak orang membuat software open source dengan motivasi masing-masing.

10 thoughts on “Kenapa orang membuka source codenya?”

  1. Salam kenal om. Satu lagi kalau boleh saya tambahkan ya om:

    Membonceng nama ‘Open Source’: Dalam persepsi masyarakat awam ‘Open Source’ identik dengan software gratis yang berada di sisi malaikat, mungkin juga tidak terlalu jauh dengan label ‘Halal’ dsb. Developer kemudian mengambil ‘celah’ persepsi ini untuk merebut hati masyarakat.

    Latah ‘Open Source’: Mungkin semacam membuat account github ‘semudah’ membuat account facebook/twitter. Kita tahulah content di facebook/twitter seperti apa, ada RT dsb. Mungkin kekhwatiran saya saja nanti akan ada istilah PC (PastedCode)

  2. Salah satu yang perlu dibenahi adalah persepsi bahwa opensource susah dipakai,ribet, dan tidak user friendly. Contohnya kenapa gak banyak yang pindah ke linux dari windows, ataupun pindah ke openoffice dari microsoft office

  3. hahahaha, manyuk2 artikelnya. saya paling suka dengan yang ini: “Orang atheis atau orang pendosa yang ingin berbuat kebaikan.”

    yang jelas penggembira2 opensource seperti saya ini sangat bersyukur ada software2 opensource 😀

  4. Tulisan yang menarik, Salah satu alasan yang paling kuat yang mendasari dari terbentuknya gerakan Open Source adalah memang Ideologi, tetapi bukan Fanatisme. Sebuah software adalah sebuah produk teknologi, yang merupakan terobosan dimana sebuah produk yang dulu memerlukan biaya untuk melakukan mass production, untuk kali ini tidak lagi. sehingga harga software bisa murah sekali kalau dijual dengan jumlah yang massal, alasan kedua, ada banyak software yang dibuat asalnya dari penelitian (sebagai tools) dari tugas kuliah, dll dimana software itu dibiayain (sebagian) oleh Negara/Universitas. Sehingga timbullah gerakan Open Source yang awalnya menyatakan bahwa software seharusnya menjadi public domain, karena dibuat dari effort beberapa entity yang dibiayai oleh pajak negara. Jadi ideologi disini ada 2 hal, 1 adalah protes terhadap cara memberikan harga software yang terasa mahal (padahal ongkos duplikasi nya dapat murah sekali / free ) dan kedua proses kreasinya berasal dari public juga. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *